Rabu, 03 September 2014

Cinta Dalam Diam

                                                            

                                        
Hidup semakin cepat berputar , gue semakin menua, tak terasa kesendirian ini telah berlangsung lama.
rasa ingin memiliki itu ada, tapi entah tak tau cara mendapatkannya,atau mungkin belum waktunya. Banyak orang yang bilang
jodoh ada di tangan Tuhan?”, “ Tuhan ada di mana-mana?”. Tapi katanya “ kalau jodoh gak kemana?”. Nah loh, jadi bingungkan jodoh ada di mana?
gue merenung.



                                                          

gue sendiri  di dalam kesendirian yang tak bertuan,seperti kopi dan rokok, paduan yang sempurna.. seperti itu kita. Semestinya.
jujur aja, gue lagi naksir cewek, dan mengakhiri spekulasi kalau gue ini bukan seorang remaja yang homoseksual.
yak namanya si *****, ah gue sensor ajalah, dia adalah cewek deket rumah gue.
seperti biasanya, setiap gue naksir cewek, pasti berakhir Cuma sekedar “naksir”.
saking lamanya jomblo gue sampai buta akan dunia cinta, dan tak tau bagaimana harus memulai.
setelah putus dari mantan gue yang entah apa kabarnya, gue seakan enggan untuk memulai cinta yang baru, bukan karena trauma, bukan juga belum bisa move on, diri gue aja yang enggan untuk memulainya, gue canggung akan cinta.
dapet kabar si ***** baru putus sama cowoknya sekitar seminggu yang lalu,gue sempet mikir,kalo deketin cewek yang baru putus itu bahaya,bisa jadi cuma di jadiin sekedar pelampiasan” tapi dalam lubuk hati gue, gue sayang dia,dan itu yang di utarakan dalam hati gue, dan entah kenapa gue gak perduli apapun lagi, ketika itu gue cuma bisa tersenyum, gue juga gengsian, rasa gengsi gue yang terlalu besar,sehingga mengalahkan segala rasa yang ada, cukup, menjadi pecinta dia dalam diam.
menyedihkan sekali. Maybe, pengennya sih:

setelah melamunkan akan hal ini, gue curhat sama hendry, sahabat gue.
dia nyambung kalo di ajak cerita, mungkin dalam hidup gue dia masuk kategori sahabat terbaik gue.
gue bukan anak musiman, hal apa yang gue suka, gak langsung gue tinggalin begitu aja.
setelah curhat yang berkepanjangan, si Hendry juga pernah ngelakuin apa yang sedang gue rasakan. mencintai dalam diam.
karena, si Hendry terlebih dulu meraskan asem manisnya mencintai orang dalam diam, dia ngomong ke gue: jika cinta ungkapkan saja, mencintai dalam diam itu seperti telah membungkus sebuah kado tapi tak pernah memberikannya. It’s a kampret.
seperti halnya yang di katakana bang Raditya dika dalam buku “marmut merah jambu”  orang yang jatuh cinta diam-diam adalah orang yang jatuh cinta sendirian, terlihat begitu menyedihkan.
mungkin jika teori: bila diam adalah berlian, itu nyata adanya.. mungkin gue akan menjadi orang yang paling kaya di dunia ini. Karena mencintainya terlalu diam. Terlalu lama memendamnya,mungkin cinta ini akan membisu,tanpa kata, tanpa makna,sia-sia,tak berguna,kampret.
akan ada pengecut baru di sini, si pengecut yang menyekap harapannya sendiri, kini hadirlah ia yang mengutuk cintanya agar tak pernah berbunyi.
banyak orang yang bilang cinta itu harus di ungkapkan,bahkan diri gue sendiri juga bilang,ngenes,sangat ngenes. karna bagi pecinta dalam diam,meski ia membiarkan bibirnya membisu,namun dia yakin,matanya mampu mewakili bibirnya untuk berbicara.


gue kembali menanyakan pada Hendry, nah,terus nasip kamu menjadi pecinta dalam diam gimana?’ Tanya gue. ‘saran saya sih,mending kamu jujur aja deh, tinggalin rasa gengsi itu. “pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. dan orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa menerima.menerima cintanya tak berbalas, menerima dan mendoakan orang yang dia cintai bahagia bersama orang lain. “ kata Hendry ,semacam memberi quote ke gue. Beh,gue di sekak mat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar